Showing posts with label LOMBOK. Show all posts
Showing posts with label LOMBOK. Show all posts

Thursday, March 22, 2012

PAWAI OGOH-OGOH TAHUN BARU SAKA 1934

Pawai ogoh-ogoh tahun 2012
Pawai ogoh-ogoh merupakan rangkaian acara dari perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1934, pawai ini digelar siang tadi (22/03) di Mataram. Pawai ogoh-ogoh sendiri mengambarkan datangnya berbagai Bhuta kala dari segala penjuru arah mata angin ke tempat pelaksanaan Upacara Tawur Kesanga guna mendapatkan persembahan. Setelah Bhuta kala mendapatkan persembahan mereka dikembalikan ke posisinya masing-masing untuk kemudian di lebur dengan menggunakan kekuatan Api. Dengan demikian di harapkan para Bhuta kala tersebut tidak lagi menggangu kehidupan manusia. Bhuta kala sendiri merupakan visualisasi dari keangkara murkaan yang lahir dari hawa nafsu negative manusia.

Setelah diarak keliling, mahluk simbolis yang menyeramkan ini kemudian akan dibakar dan dimusnahkan sebagai simbol dari tekad dan komitmen umat hindu untuk memberantas berbagai bentuk kejahatan. Musuh utama yang sulit ditaklukkan bersumber dari hawa nafsu, karenanya perang melawan kejahatan hawa nafsu akan melahirkan kemengan Dharma.

Menurut Ketua Dewan ogoh-ogoh Mataram, I Nyoman Artha Kusuma Arsana, peserta pawai ogoh-ogoh tahun ini tidak sebanyak tahun kemarin. Tahun ini hanya diikuti oleh 130 ogoh-ogoh sedangkan tahun kemarin ada 151 ogoh-ogoh yang diarak dalam pawai.

Rute pawai ogoh-ogoh ini masih sama dengan rute pawai ogoh-ogoh tahun lalu. Arak-arakan dimulai dari depan kantor Lurah Cakra Barat hingga berakhir diperempatan Cakra. Pawai ogoh-ogoh dilepas oleh Wali Kota Mataram, H. Ahyar Abduh. 2 Jalan protokol di Kota Mataram yaitu Jalan Langko dan Jalan Pejanggik telah ditutup sejak Kamis pagi untuk arak-arakan ini.

Untuk pengamanan acara ini, Polres Mataram menerjunkan sekitar 400 personil Polisi.

Thursday, March 15, 2012

ANTRIAN PANJANG DI PELABUHAN LEMBAR

Antrian di Pelabuhan Lembar
Akibat angin kencang beberapa hari ini menjadikan aktivitas di Pelabuhan Lembar lumpuh. Akibat angin kencang ini banyak kapal ferry yang tidak melayani pengangkutan sehingga mengakibatkan antrian panjang di area parkir pelabuhan. Karena area parkir pelabuhan sudah penuh maka banyak truk-truk yang antri disepanjang jalan menuju pelabuhan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Mataram, ketinggian gelombang di perairan Bali-Lombok diperkirakan mencapai tiga hingga empat meter. Sedangkan kecepatan angin diperkirakan hingga 30 knot per jam. Pelabuhan lembar adalah satu-satunya pelabuhan penyebrangan di Lombok yang menghubungkan pulau Lombok dengan pulau Bali.


Hingga pagi tadi, panjang antrian truk mencapai 3 kilometer. Akibat antrian ini, jalan yang menuju ke pelabuhan jadi macet. Antrian terlihat hingga ke desa Batu Samban Lembar.


Banyak penumpang bus dan sopir-sopir truk yang harus menginap di pelabuhan karena pihak pelabuhan masih memberlakukan sistem buka tutup melihat cuaca yang tidak bersahabat.

Saturday, March 3, 2012

PELABUHAN LEMBAR

Pelabuhan Lembar
Pelabuhan Lembar adalah salah satu pelabuhan penyebrangan yang ada di pulau Lombok dan menjadi satu-satunya pelabuhan yang menghubungkan antara pulau Lombok dan pulau Bali.
Pelabuhan Lembar terletak di Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat. Jarak pelabuhan Lembar dan kota Mataram sekitar 30 km dan memakan waktu tempuh sekitar 45 menit apabila menggunakan sepeda motor atau mobil.


Di pelabuhan ferry ada 3 buah dermaga yang siap di gunakan untuk bongkar muat penumpang yang menggunakan jasa angkutan kapal ferry. Di pelabuhan Lembar sendiri terdapat 2 buah pelabuhan, yaitu pelabuhan ferry (warga Lembar biasa menyebutnya dengan pelabuhan timur) dan pelabuhan muat barang (warga Lembar biasa menyebutnya dengan pelabuhan barat).


Kapal Ferry di pelabuhan Lembar
Di pelabuhan barat atau pelabuhan barang banyak kita jumpai kapal-kapal yang selalu membongkar muatan kapal mereka seperti pupuk, kayu, barang-barang cargo dan sebagainya.
KM Tilong Kabila atau KM Awu tiap minggu selalu singgah di pelabuhan ini untuk menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang yang akan berpergian ke Bima, Labuan Bajo, Kupang atau Makassar.


Di pelabuhan barat juga terdapat pabrik seperti pabrik pupuk curah, pabrik semen curah dan pabrik minyak goreng curah.

Monday, November 28, 2011

PRESEAN (Budaya Suku Sasak)

Presean
Presean adalah Budaya Simbol Kejantanan Pemuda Suku Sasak di Pulau Lombok.
Acara ini berupa pertarungan dua lelaki Sasak bersenjatakan tongkat rotan atau biasa disebut peyalin serta berperisai kulit kerbau tebal dan keras yang biasa di sebut dengan ende.Petarung biasa di sebut dengan pepadu dan wasit pinggir disebut pakembar sedi dan wasit tengah disebut pekembar.

Dengan bertelanjang badan dan sebuah rotan di tangan kanan serta sebuah perisai yang terbuat dari kulit binatang di tangan kiri, dua orang pemuda yang dikenal dengan nama pepadu ini bersiap saling mengadu kejantanan didepan ratusan penonton yang mengelilingi mereka diluar arena.

Presean ini bermula hanya upacara adat dari luapan emosi para prajurit jaman kerajaan dulu sehabis mengalahkan lawan di medan perang.

Budaya Presean atau bertarung dengan rotan memang sudah dikenal masyarakat Lombok sejak lama. Namun budaya yang penuh dengan kekerasan itu berubah menjadi unik ketika dipadukan gaya bela diri yang unik dan lucu dari pemainnya. Presean ini sangat unik ketika di padukan gaya bela diri yang di pragakan oleh para pepadu.

Dengan bertelanjang badan dan sebuah rotan di tangan kanan serta sebuah perisai yang terbuat dari kulit binatang di tangan kiri, dua orang pemuda yang dikenal dengan nama pepadu ini bersiap saling mengadu kejantanan didepan ratusan penonton yang mengelilingi mereka diluar arena. Sambil menari-nari di iringi dengan music gamelan (music lombok) kedua pepadu saling menghalau lawan dengan penyalen tanpa rasa cemas atau takut

Uniknya Presean ini para peserta tidak pernah disiapkan, para penonton pun bisa ikut serta mengambil alih menjadi seorang petarung.
Aturan maennya juga tidak mbuat para petarung bngung, hanya tidak boleh memukul bagian bawah perut. Kalau pepadu(petarung) kena kepala sampai bocor berarti dianggap K.O.
pertandingan tidak boleh di lanjutkan lagi kalao pepadu(petarung) mengeluarkan darah. walaupun pepadu tidak mau menyerah.
Hadiah yang di perebutkan tidak seberapa kalao di bandingkan dengan lukanya, Tapi banyak juga pemuda yang ikut ambil alih dalam pertandingan ini.

Tarian rotan dari Lombok ini sudah dikenal masyarakat Sasak secara turun temurun. Awalnya merupakan sebuah bagian dari upacara adat yang menjadi ritual untuk memohon hujan ketika kemarau panjang. Sebuah tradisi-yang dalam perkembangan kemudian-sekaligus berfungsi sebagai hiburan yang banyak diminati. Sebagai salah satu upaya melestarikan budaya daerah, Presean Lombok pun mulai sering dilombakan.

Pertandingan diakhir dengan salam dan pelukan persahabatan antar petarung. Tanda tiada dendam dan semua hanyalah permainan.

KELENGKAPAN PERESEAN dan PEKEMBAR


Ada 2 alat yang dipakai dalam Peresean, yaitu:

Sebuah perisai (ende) dipegang dengan tangan sebelah, tangan disebelah lainnya lagi memegang alat pukul yang terbuat dari sebilah rotan.

Jalannya pertarungan ini dipimpin oleh seorang Pekembar (wasit), dan pekembar ini ada dua macam:
Pekembar sedi atau pinggir ini akan menanding pasangan bertarung,
Pekembar tengaq akan memimpin pertandingan.

Pekembar memimpin pertandingan berdasar awiq-awig (aturan dan kode etik) yang isinya tentang sistem ronde (tarungan), biasanya pepadu bertarung dalam 5 ronde atau 4 ronde, atau sesuai kesepakatan yang ditentukan. Biasanya pemula bisa bermain 2 ronde. Pertarungaan diakhiri dengan tiupan pluit yang ditiup oleh pekembar tengaq (yang memimpin pertandingan).

KESENIAN PENDUKUNG

  • ALAT MUSIK PERESEAN
Musik tradisional yang mengiringi terdiri dari beberapa alat musik:2 buah Gendang
1 buah Petuk
1 set Rencek
1 buah Gong
Suling

Suara alunan suling ini sangat membuat suasana menyayat-nyayat ketika pertandingan dilangsungkan, seolah suara angin seruling itu menjadi irama pukulan dan tangkisan cemeti yang berseliweran di angkasa.

  • GENDING PERESENAN
Unsur gending sangat penting dalam peresean, dan setidaknya kita jumpai ada 3 macam yang umum mengalun di arena peresean :
  1. Gending Ngadokang atau Gending Rangsang dimainkan pada saat Pekembar dengan dibantu Pengadok mencari Pepadu dan lawan tandingnya yang akan bertanding.
  2. Gending Mayuang yaitu gending pemberi pertanda bahwa telah ditemukan atau disetujui atau telah bersiap sepasang Pepadu berlaga.
  3. Gending Beradu merupakan gending yang iramanya 'bongbong' atau membakar semangat dan menyulut serta mendidikan darah Pepadu. Penontonpun bersorak ketika gending ini mulai bertalu, dan pukul-memukul dimulai. 
BUSANA ADAT PERESEAN
Dalam pertandingan Presean tradisional, ada busana adat Presean yang juga sangat dijaga dan mesti dipenuhi seperti :
  1. Sapuk batik (ikat kepala dari kain batik)
  2. Kereng (kain).
  3. Bebet (kain ikat yang mengikat kereng, biasanya tak lupa menyelipkan Bebadong atau jimat kesaktian sebagai pemunah sakit atau membangun kharisma dan kekuatan magis sehingga musuh 'tunduk sebelum dipukul').
Unsur kesenian inilah yang membuat kita membedakan bahwa peresean bukan tarung jalanan, bukan keliaran atau keganasan, tapi sebuah budaya-seni yang sangat mendalam dalam suku Sasak.


Tuesday, November 15, 2011

PANTAI KUTA LOMBOK

Pantai Kuta Lombok
Pantai Kuta Lombok adalah tempat wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pantai dengan pasir berwarna putih ini terletak sebuah desa bernama Desa Kuta. Desa Kuta mulai menjadi tempat tujuan wisata yang menarik di Indonesia sejak didirikannya banyak hotel-hotel baru. Selain keindahan alam yang dapat dinikmati di desa ini, satu kali dalam setahun diadakan upacara Sasak di desa ini.

Pantai Kuta Lombok adalah tempat wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pantai dengan pasir berwarna putih ini terletak sebuah desa bernama Desa Kuta. Desa Kuta mulai menjadi tempat tujuan wisata yang menarik di Indonesia sejak didirikannya banyak hotel-hotel baru.

Pantai Kuta Lombok
Selain keindahan alam yang dapat dinikmati di desa ini, satu kali dalam setahun diadakan upacara Sasak di desa ini. Ini adalah upacara Bau Nyale. Dalam upacara ini para pelaut mencari cacing Nyale di laut. Menurut legenda, dahulunya ada seorang putri, bernama Putri Mandalika, yang sangat cantik, banyak pangeran dan pemuda yang ingin menikah dengannya. Karena ia tidak dapat mengambil keputusan, maka ia terjun ke air laut. Ia berjanji sebelumnya bahwa ia akan datang kembali satu kali dalam setahun. Rambutnya yang panjang kemudian menjadi cacing Nyale tersebut.

Desa Kute dengan pantai pasir putihnya terletak di pantai Selatan pulau Lombok. Dikelilingi oleh deretan perbukitan. Di pagi hari pemandangan yang menakjubkan dapat dilihat dari puncak perbukitan tersebut. Selain itu terdpat banyak pantai-pantai yang tak kalah menariknya di sepanjang pantai Selatan. Di antaranya pantai Seger, Aan, Mawi, Selong Belanak, Rowok dan Mawun. Dua yang terakhir sangat bagus sebagai lokasi untuk selancar angin maupun untuk olahraga pantai lainnya.

FESTIVAL BAU NYALE MANDALIKA

Setiap tanggal duapuluh bulan kesepuluh dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah selalu berlangsung acara menarik yang dikunjungi banyak orang termasuk wisatawan. Kali ini, acara tersebut selama tiga hari, 7-9 Maret 2007. Acara yang menarik itu bernama Bau Nyale. Bau dari bahasa Sasak artinya menangkap. Sedangkan Nyale, sejenis cacing laut yang hidup di lubang - lubang batu karang di bawah permukaan laut.

Festival Bau Nyale
Penduduk setempat mempercayai Nyale memiliki tuah yang dapat mendatangkan kesejahteraan bagi yang menghargainya dan mudarat bagi orang yang meremehkannya.”Itulah yang berkembang selama ini,” ujar seorang warga Lombok Tengah Lalu Wirekarme.

Tradisi menangkap Nyale (bahasa sasak Bau Nyale) dipercaya timbul akibat pengaruh keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang mendasar akan kebesaran Tuhan, menciptakan alam dengan segala isinya termasuk binatang sejenis Anelida yang disebut Nyale. Kemunculannya di pantai Lombok Selatan yang ditandai dengan keajaiban alam sebagai rahmat Tuhan atas makhluk ini.

Beberapa waktu sebelum Nyale keluar hujan turun deras dimalam hari diselingi kilat dan petir yang menggelegar disertai dengan tiupan angin yang sangat kencang. Diperkirakan pada hari keempat setelah purnama, malam menjelang Nyale hendak keluar, hujan menjadi reda, berganti dengan hujan rintik - rintik, suasana menjadi demikian tenang, pada dini hari Nyale mulai menampakkan diri bergulung - gulung bersama ombak yang gemuruh memecah pantai, dan secepat itu pula Nyale berangsur - angsur lenyap dari permukaan laut bersamaan dengan fajar menyingsing di ufuk timur.

Dalam kegiatan ini terlihat yang paling menonjol adalah fungsi solidaritas dan kebersamaan dalam kelompok masyarakat yang dapat terus dipertahankan karena ikut mendukung kelangsungan budaya tradisional.

Keajaiban Nyale bagi suku Sasak Lombok telah menimbulkan dongeng tentang kejadian yang tersebar hampir keseluruh lapisan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Dongeng ini sangat menarik dengan cerita yang sangat romantis dan berkembang melalui penuturan orang - orang tua yang kemudian tersusun dalam naskah tentang legenda Nyale.

Menurut dongeng bahwa pada zaman dahulu di pantai selatan Pulau Lombok terdapat sebuah kerajaan yang bernama Tonjang Beru. Sekeliling di kerajaan ini dibuat ruangan - ruangan yang besar. Ruangan ini digunakan untuk pertemuan raja - raja. Negeri Tonjang Beru ini diperintah oleh raja yang terkenal akan kearifan dan kebijaksanaannya, Raja itu bernama raja Tonjang Beru dengan permaisurinya Dewi Seranting.

Baginda mempunyai seorang putri, namanya Putri Mandalika. Ketika sang putri menginjak usia dewasa, amat elok parasnya. Ia sangat anggun dan cantik jelita. Matanya laksana bagaikan bintang di timur. Pipinya laksana pauh dilayang. Rambutnya bagaikan mayang terurai. Di samping anggun dan cantik ia terkenal ramah dan sopan. Tutur bahasanya lembut. Itulah yang membuat sang putri menjadi kebanggaan para rakyatnya.

Semua rakyat sangat bangga mempunyai raja yang arif dan bijaksana yang ingin membantu rakyatnya yang kesusahan. Berkat segala bantuan dari raja rakyat negeri Tonjang Beru menjadi hidup makmur, aman dan sentosa. Kecantikan dan keanggunan Putri Mandalika sangat tersohor dari ujung timur sampai ujung barat pulau Lombok. Kecantikan dan keanggunan sang putri terdengar oleh para pangeran - pangeran yang membagi habis bumi Sasak (Lombok). Masing - masing dari kerajaan Johor, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, dan kerajaan Beru. Para pangerannya pada jatuh cinta. Mereka mabuk kepayang melihat kecantikan dan keanggunan sang putri.

Mereka saling mengadu peruntungan, siapa bisa mempersunting Putri Mandalika. Apa daya dengan sepenuh perasaan halusnya, Putri Mandalika menampik. Para pangeran jadi gigit jari. Dua pangeran amat murka menerima kenyataan itu. Mereka adalah Pangeran Datu Teruna dan Pangeran Maliawang. Masing - masing dari kerajaan Johor dan kerajaan Lipur. Datu Teruna mengutus Arya Bawal dan Arya Tebuik untuk melamar, dengan ancaman hancurnya kerajaan Tonjang Beru bila lamaran itu ditolaknya. Pangeran Maliawang mengirim Arya Bumbang dan Arya Tuna dengan hajat dan ancaman yang serupa.

Putri Mandalika tidak bergeming. Serta merta Datu Teruna melepaskan senggeger Utusaning Allah, sedang Maliawang meniup Senggeger Jaring Sutra. Keampuhan kedua senggeger ini tak kepalang tanggung dimata Putri Mandalika, wajah kedua pangeran itu muncul berbarengan. Tak bisa makan, tak bisa tidur, sang putri akhirnya kurus kering. Seisi negeri Tonjang Beru disaput duka.

Kenapa sang putri menolak lamaran ? Karena, selain rasa cintanya mesti bicara, ia juga merasa memikul tanggung jawab yang tidak kecil. Akan timbul bencana manakala sang putri menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semadi, sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan pada tanggal 20 bulan 10 ( bulan Sasak ) menjelang pagi - pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai oleh seluruh rakyat masing - masing. Semua para undangan diminta datang dan berkumpul di pantai Kuta. Tanpa diduga - duga enam orang para pangeran datang, dan rakyat banyak yang datang, ribuan jumlahnya. Pantai yang didatangi ini bagaikan dikerumuni semut.

Ada yang datang dua hari sebelum hari yang ditentukan oleh sang putri. Anak - anak sampai kakek - kakek pun datang memenuhi undangan sang putri ditempat itu. Rupanya mereka ingin menyaksikan bagaimana sang putri akan menentukan pilihannya. Pengunjung berduyun - duyun datang dari seluruh penjuru pulau Lombok. Merekapun berkumpul dengan hati sabar menanti kehadiran sang putri.

Betul seperti janjinya. Sang putri muncul sebelum adzan berkumandang. Persis ketika langit memerah di ufuk timur, sang putri yang cantik dan anggun ini hadir dengan diusung menggunakan usungan yang berlapiskan emas. Prajurit kerajaan berjalan di kiri, di kanan, dan di belakang sang putri. Sungguh pengawalan yang ketat. Semua undangan yang menunggu berhari - hari hanya bisa melongo kecantikan dan keanggunan sang putri. Sang putri datang dengan gaun yang sangat indah. Bahannya dari kain sutera yang sangat halus.

Tidak lama kemudian, sang putri melangkah, lalu berhenti di onggokan batu, membelakangi laut lepas. Disitu Putri Mandalika berdiri kemudian ia menoleh kepada seluruh undangannya. Sang putri berbicara singkat, tetapi isinya padat, mengumumkan keputusannya dengan suara lantang dengan berseru : ”Wahai ayahanda dan ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku tidak dapat memilih satu diantara pangeran. Karena ini takdir yang menghendaki agar aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan laut.”

Nyale
Bersamaan dan berakhirnya kata - kata tersebut para pangeran pada bingung rakyat pun ikut bingung dan bertanya - tanya memikirkan kata - kata itu. Tanpa diduga - duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu dan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung di telan gelombang disertai dengan angin kencang, kilat dan petir yang menggelegar.

Tidak ada tanda - tanda sang putri ada di tempat itu. Pada saat mereka pada kebingungan muncullah binatang kecil yang jumlahnya sangat banyak yang kini disebut sebagai Nyale. Binatang itu berbentuk cacing laut. Dugaan mereka binatang itulah jelmaan dari sang putri. Lalu beramai - ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak - banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.

Itulah kisah Bau Nyale. Penangkapan Nyale menjadi tradisi turun - temurun di pulau Lombok. Pada saat acara Bau Nyale yang dilangsungkan pada masa sekarang ini, mereka sejak sore hari mereka yang akan menangkap Nyale berkumpul di pantai mengisi acara dengan peresean, membuat kemah dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu). Dan tak ketinggalan pula, digelar drama kolosal Putri Mandalika di pantai Seger.

Warga masyarakat yang datang ke pantai Seger untuk ikut melaksanakan upacara Bau Nyale datang dengan menggunakan kendaraan. Nyale bagi penduduk Lombok Selatan dengan lahan persawahan tadah hujan merupakan benda rahmat Tuhan yang bisa digunakan sebagai tanda keberhasilan panen yang memuaskan.

Tradisi Bau Nyale - menangkap cacing laut - sebagai bagian dari legenda Putri Mandalika di Lombok.Di sana, warga dari sekeliling Lombok berdatangan sejak malam sebelumnya.

Suasana Acara Bau Nyale
Lalu Wirekarme yang pernah menjabat Kepala Sub Dinas Pemasaran Dinas Pariwisata Lombok Tengah, menjelaskan bahwa acara ini sebenarnya sudah berlangsung turun temurun secara alami. Namun, setelah berkembangnya pariwisata di Lombok, kemeriahan pun semakin dipoles adanya atraksi tambahan berupa pementasan drama kolosal Putri Mandalika yang dihadiri oleh pejabat lokal hingga provinsi Nusa Tenggara Barat bahkan tidak sedikit yang datang dari Jakarta.

Bau Nyale ada di 16 pantai yang memanjang sejauh 72 kilometer dari arah timur hingga ke barat di selatan Lombok Tengah. Utamanya dilaksanakan di pantai Seger dan sekitarnya. Pantai obyek pariwisata yang potensial di Nusa Tenggara Barat. Keindahan pantai ini membuat hati para wisatawan menjadi kagum melihat segala pemandangan alamnya. Perairan di sekitar pantai Kuta hingga pantai Tanjung Aan sangat cocok untuk berenang. Pantai ini terletak di bagian selatan pulau Lombok, kira - kira 54 kilometer tenggara kota Mataram. Suasananya tenang senyap menyambut langkah - langkah diantara pasir putih halus - bagaikan merica - yang membentang dari ujung barat ke ujung timur dengan puluhan kawasan wisata mulai dari pantai Ujung Kelor yang berbatasan dengan Lombok Timur, hingga pantai Pengantap di Lombak Barat.

Seperti biasanya, dipadati ribuan kaum muda setelah menungguinya di tengah hujan deras sepanjang malam. Mereka yang rela menahan dingin dan kantuk di Pantai Seger di Desa Kuta Kecamatan Pujut dalam kawasan PT Pengembangan Pariwisata Lombok tersebut yang datang tidak hanya dari warga desa di Kecamatan Pujut saja. Tetapi juga para muda-mudi dari Mataram dan Praya yang datang mengendarai ratusan mobil.Pantai Seger yang kini lebih dikenal dengan pantai Putri Nyale ini pun dilengkapi oleh lereng - lereng yang terjal dari bukit yang berbatasan dengan bibir pantai. Sungguh, alam mempesona. Di pantai selatan itulah hidup dan tersebar suatu legenda sehubungan dengan adanya Nyale (sejenis cacing laut) yang muncul satu kali dalam setahun.

Nyale ditangkap di beberapa tempat di pantai selatan pulau Lombok antara lain di pantai Kaliantan, Kuta, Selong Belanak, Mawun. Lokasi yang terbaik dikunjungi wisatawan adalah pantai Seger desa Kuta dengan kondisi prasarana yang cukup memadai. Nyale pada melakukan pembuahan muncul di permukaan laut yang dimulai pada waktu fajar sampai sebelum matahari terbit. Munculnya Nyale di permukaan laut pada saat menjelang fajar yang disinari oleh rembulan membawa keindahan yang menarik dan merangsang para nelayan untuk menangkap Nyale dan lama kelamaan menjadi tradisi budaya. Munculnya Nyale dipermukaan laut terjadi setiap tahun sekitar bulan Februari.

Secara ilmiah, cacing Nyale yang pernah diteliti mengandung protein hewani tinggi sekali. Pernah dijelaskan oleh penelitinya, Dr dr Soewignyo Soemohardjo, cacing Nyale ini telah diketahui mengeluarkan suatu zat yang sudah terbukti bisa membunuh kuman-kuman. Dari sebuah laporan survey aspek sosio budaya Nyale, diketahui 70,6 persen responden membuang daun bekas pembungkus Nyale ke sawah supaya hasil tanaman padi akan melimpah ruah dan memberi tahu tanaman padi bahwa nyale telah selesai ditangkap yang berarti hujan akan berhenti.

Selama ini masyarakat menjadikan masakan pes atau dikukus dan dibungkus daun. Masyarakat juga meyakini apabila Nyale keluar banyak menandakan pertanian berhasil. Lombok Selatan selama ini dikenal sebagai daerah kritis karena tidak adanya irigasi. Sawah di sana tadah hujan. Jadi kalau hujan banyak barangkali salinitas air memungkinkan untuk populasinya berkembang, diyakini tanaman padinya berhasil.


Thursday, November 10, 2011

THREE GILIS IN LOMBOK


3 Gilis

Gili Islands are an archipelago of three small islands - Gili Trawangan, Gili Meno and Gili Air- just off the northwest coast of Lombok, Indonesia. 

The islands are a popular destination for Western tourists looking for a remote island experience. Each island has several small resorts, usually consisting of a small collection of huts for tourists, and a restaurant. Most local inhabitants live in the hilly interior of the island. Automobiles and motorized traffic are prohibited on the islands by local ordinance, so the preferred method of transportation is bicycle or the horse-drawn carriage called a cidomo. Diving in and around the Gilis is also popular, although the prices are fairly high due to local cartel activities. The name “Gili Islands” is a bit of a misnomer, because Gili simply means “small island” in Sasak. 


Cidomo  as Transportasion in Gili
1. GILI TRAWANGAN 

Gili Trawangan
Gili Trawangan is the largest of Lombok's Gili Islands and is the only one to rise significantly above sea level. It is 3km long and 2km wide with a population of about 1000. Of the Gilis, Trawangan has the most tourist facilities; the pub Tîr na Nôg claims that Trawangan is the smallest island in the world with an Irish pub. The most crowded part of Trawangan lies on the eastern side.

On Gili Trawangan (as well as the other two Gilis), there are no motorized vehicles. The main means of transportation are bicycles (rented by locals to tourists) and cidomo (a small horsedrawn carriage). For traveling to and from each of the Gilis, locals usually use motorized boats and speedboats.

The Gili islands are renowned not only for their friendly inhabitants but the total tropical island paradise feeling that they have. The white coral beaches, the warm and inviting waters all invite to snorkeling, sun bathing and of course diving. The diversity of aquatic life is astounding and just off the shores you can find turtles, sting rays, reef sharks, baracudas, and a myriad of small and large fish. Some of the first inhabitants of Gili Trawangan were from Sulawesi who are fishermen and farmers. Previously Gili Trawangan was covered in forest and deer lived on the island.

2. GILI MENO 

Gili Meno
Gili Meno is the middle of Lombok's three Gilis. It has population of about 300, mainly concentrated on the center of the island. The main income of the population comes from tourism, coconut plantation and fishing. On the west side of the island there is a small shallow lake that produces salt in the dry season. Until a few years ago there was also a small production of seaweed on the reef at the north end of the island. It has swimming beaches all around the island, as well as an impressive bird sanctuary.

3. GILI AIR 

Gili Air
Gili Air is the smallest of the Gilis and it's closest to the Lombok mainland, making it popular with honeymoon couples and travelers seeking a quiet retreat. It has population of about 1,000 and administratively lies in the West Nusa Tenggara province. The island offers excellent snorkeling and SCUBA diving off its east coast, and turtles can be seen along the coral reef.

Gili Meno, the central island, is home to only a few hundred residents. The most quiet and least exploited island of the three, makes Gili Meno also the most attractive. Drinking water is brought in from Lombok. The sources of the island only bring in salt water which is hardly good enough to bath in. Just inland is a big salt lake, which is separated by small dykes for salt mining, which takes place in the dry season (May until October). The dry times are sometimes marked by cholera on the island. The rest of the year there are malaria musquitos; don't forget tablets and a musquito net.

The hotels and bungalows are located along the southeastern coast. They offer a nice view over Gili Air and Gunung Rinjani in the east. The best place for snorkling is the northeastern coast, near the Blue Coral Bungalow, which has it's name from the blue-colored corals just offshore. The reef offers a big variety of coral spiecies and small, colorfull fish.


HOW TO GET THERE 

In the Gili Islands, there is no shortage of small local boats willing to transport you, from island to island and back to the mainland. None of boats has any kind of safety equipment and the waters around the Gili’s can be choppy. Regardless, they are a handy form of transport and make exploring the islands easy.

There are regular shuttle services from Bangsalon the main is land of Lombok, stopping at all islands. The trip takes about 15 minutes to Air, 30 min to Meno and 45 min to Trawangan. Around Rp 30-40,000 one-way, or Rp70,000 if including land transfer from Senggigi. Avoid traveling to Bangsal as captains will wait until the boat is full of passengers before setting off. Book a trip with Parama instead, which will travel to and from the islands no matter how many people they have.

Alternatively, the Gilis can be visited on a day trip from Senggigi, in which case you'll get your own little boat and crew to take you around. The trip across take 1-2 hours each way and is quite scenic, if a little bumpy when the waves are high. Available from any travel agent, figure on Rp 400,000 for a tour for two.

Note that the sea is calmest in the morning and all transport stops running in the afternoon, well before dark.


GET AROUND 

In a rare display of foresight, all forms of motorized transport are banned from the islands: your only choice is horse drawn carts, known as cidomo, which are used even to shuttle around diving gear. However, as the islands are only a few km in diameter, it's entirely possible to just walk instead.


SEA AND DO 

There are no sights as such on the islands themselves, but the excellentsnorkeling and diving all around is a major draw. Sea turtles are also common, especially around Turtle Point just north of Gili Meno. You can rent masks and fins off the beach, or contact any of the numerous dive shops to arrange snorkeling or diving at choice spots nearby.


RINJANI MOUNTAIN


Mount Rinjani

Mount Rinjani is included in the category of volcano is still active today. Mountain has a height of ± 3726 m above sea level is the second highest volcano in Indonesia. The mountain is located in East Lombok district of West Nusa Tenggara. Mount Rinjani also has mountain child and people called it by Mount Baru Jari.

Mount Baru Jari has a height of ±2376 m above sea level. Mount Baru Jari last erupted on May 4, 2010, while Mount Rinjani was first erupted in 1847.

Mount Rinjani has a beautiful panoramic views of Mount Rinjani so become a favorite place for hikers to visit this place. Between the months of August to December this place is always crowded visited by hikers of indonesia and even foreign countries.

Lake Segara Anak and Mount Baru Jari

Lake Segara Anak and Mount Baru Jari
In this mountain there is a lake which is Segara Anak Lake, in the middle of the lake is the location of Mount Baru Jari and still active until now. For the Sasak tribe, this lake is considered a sacred place because according to their beliefs, this lake is where funeral of Dewi Anjani. They say, Dewi Anjani is Queen Genie who mastering of Mount Rinjani, So not be surprised if the climbers always smelling of incense and see the many offerings around the lake. According to the Sasak tribe, Dewi Anjani is a child of the marriage of the genie and human Sasak tribe.

For hikers who want to climb up here can choose 3 existing route, including:

Senaru Pathway
1. Senaru Pathway

Mataram-Bayan-Senaru
± 3 hours travel time by car
Senaru-Lake Segara Anak
± 9 hours of travel time on foot
Lake Segara Anak-Peak of Rinjani
± 4-hour travel time on foot

2. Sembalun Pathway
Mataram-Selong-Sambelia-Sembalun Lawang
± 5 hours travel time by car
Sembalun Lawang-Lake Segara Anak
± 3 hours travel time on foot
Lake Segara Anak-Peak of Rinjani

3. Torean Pathway

Mataram-Torean
± 4 hours travel time by car
Torean-Lake Segara Anak
± 8-hour travel time on foot
Lake Segara Anak-Peak of Rinjani
± 4-hour travel time on foot ± 4-hour travel time on foot

For those of you who have a hobby of climbing, you must visit this place.

ENJOY NATURAL BEAUTY of PUSUK


MONKEYS in PUSUK

Pusuk which means the peak, is part of Forest Rinjani, Lombok. Pusuk become stopover for foreign and domestic tourist before they heading to some tourist attraction in North Lombok such as Gili Air, Gili Meno, Sira Beach, Sendang Gila Waterfall and Gili Terawangan. 

The road to Pusuk very winding and steep, but it will all be forgotten due to the beauty of this place. Protection forests are lush and beautiful scenery.

In Pusuk we'll find some uniqueness among which the monkeys are always faithful to stand side of the road, as though they always waiting for arrival of visitors, they will always stick their hands and hope for mercy of visitors for throwing food to them.

Monkeys in Pusuk including a benign and do not disturbing or grab food carried by tourists. Thousands of forest monkeys are roaming free on the highway in this area.

The monkeys are also fairly sheepishly, when we would take their picture with the camera, they will hide among the shady trees.

In Pusuk we also will see many small stands selling sweet wine. Made from palm fruit is fermented for 2 days, white sweet drinks are not at all intoxicants.

When the durian season comes, we also will see many durian sellers that offer his wares, the price is also relatively cheap.

This place is amazing, Monkeys lives here are not disrupted by the density of vehicles passing through this place, because Pusuk is an alternative road for residents of North Lombok are going shopping or go for their studies to Mataram, Mataram is the capital of the province West Nusa Tenggara, of course everything will be available in Mataram.

This place will always still beautiful because surrounding communities are care for this place and they also never hunt the monkeys that are here.


Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

Pusuk

PRESEAN LOMBOK


Lombok Culture : Presean
Presean is one of a number of Culture which is owned by the people of Lombok.
Presean it's means the fight by using Penjalin (Rattan) as a tool to hit and Ende (Shield) as a protective device. Presean has long been recognized by the people of Lombok.

Presean is one of culture that spelled out "hard" because in this culture players (Pepadu) will show an action at each other until one of them issued a fresh blood, however the culture is full of "violence" was still preserved until today this.
Players (pepadu) that issued the fresh blood in his brain then he is considered lose even though he was still able to continue the fight.

The uniqueness of this Presean is you can see when Pepadu (Knights) have started hitting each other in action-by using Penjalin (Rottan), when the fight starts musicians will play traditional musical instruments of Lombok, so the battle looks like someone who is dancing, in tune with traditional musical instruments played by the musicians, Each Pepadu (Warrior) hit the opponent until one of them is bleed due to leaky or any one of those who surrendered.

Lombok Culture : Presean
Presean is a blast from the soldiers in the time of empire, after the royal army managed to defeat an opponent in battle. Up until now, still be conserved by the peopleof tribe Sasak, Presean aims to test the courage or guts Cadet (Youth) Sasak, the main purpose of Presean is to attract interest from foreign tourists and local tourists.

A little info about Culture Presean :

1. It is one of the many cultures of Sasak tribe in lombok island
2. Preseason included in the category of traditional dances
3. Formerly, Presean used to ceremony ask for rain
4. If you want to witness firsthand please come to the island of Lombok, we encourage you to come to Beach of Karang Atas at Tanjung Village North of Lombok where you can witness firsthand the Presean on every Sunday around 4 pm

SENDANG GILA WATERFALL


Sendang Gila Waterfall

  • Overview of The Sendang Gila Waterfall
Location waterfall located in the area of ​​Rinjani is called Sendang Gila (read gile), because according to the story, locals not accidentally discovered this waterfall when chasing lions crazy, he screw up in a village and then ran into the forest. Tourist attractions the most visited by domestic tourists it has a height of about 31 meters.
Sendang Gila Waterfall
This waterfall emerges from the cliff and fell into the river below it. Basis of this waterfall is relatively flat, so a lot of people bathing under this waterfall. There is another waterfall near with this location and called as Tiu Kelep. However, because the distance from Sendang Gila take 1 hour and the damaged roads condition, travelers often prefer just to visit this waterfall.
Sendang Gila Waterfall and Tiu Kelep Waterfall
  • Privileges of Sendang Gile Waterfall
Situated at an altitude of 600m above sea level, this waterfall offers a relaxed and peaceful atmosphere. For tourists who saturated with the bustle of city, it's good to visit this waterfall. The touch of nature that are categorized as distant from nuances of urban, beautiful and captivating panorama, as well as the fresh air, able to bring you to the world that can eliminate fatigue in the head.
Sendang Gila Waterfall
In addition, there are other interesting things that make this location is different. The locals believe that the water at this location has a magical element that can make a person one year younger than her age.
  • Location 
Natural attractions are located in the northern areas of North Lombok regency, West Nusa Tenggara Province. Precisely in the village of Senaru, Bayan district. This village is approximately 60 km from the capital Mataram. These tourist sites are still in the region of Mount Rinjani, which is the 3rd highest mountain in Indonesia.
Sendang Gila Waterfall
Sendang Gila Waterfall

  • Route leading to Sendang Gila Waterfall 
There are two routes to go to Sendang Gila Waterfall
  1. Passing Pusuk, scenery of rice fields and green mountains on either side presented. After that the trip will go through a winding road while and climbing up until past the peak of Pusuk. When passing peak Pusuk (Pusuk Pass) we will go through Pusuk tourist areas, where along the road we will see many small monkeys.
  2. Through Senggigi is the travel farther and longer than past Pusuk, but this pathway is promising beach view. Starting from meninting Beach, Batu Bolong Beach, Senggigi Beach, Beach Kerandangan, Beach Malimbu up to see three small islands to the west of the island of Lombok is Gili Trawangan, Gili Meno and Gili Air.
Pusuk
Pusuk
Senggigi Beach
Gili Air Beach
Gili Meno Beach

Gili Trawangan Beach
  • Entrance fee
To get into the location of Sendang Gile Waterfall, the tourists don't have to spend a lot of money. Ticket price is only Rp. 20.000, -.
Map of Lombok Island