Showing posts with label hari valentine. Show all posts
Showing posts with label hari valentine. Show all posts

Sunday, February 12, 2012

Gerakan Tutup Aurat di Valentine`s Day

Biasanya yang paling ramai merayakan hari kasih sayang atau Valentine`s Day adalah selebritis, semi-selebritis, pseudo-selebritis atau mantan selebritis. Maksudnya, yang pertama adalah selebritis murni, kedua, orang-orang yang hampir menjadi selebritis tapi gagal, ketiga, gaya hidupnya mirip selebritis meski wajah tidak mendukung. Nah, yang terakhir adalah orang-orang yang dulunya selebritis tapi kemudian dilupakan karena sudah tidak laku.

Tradisi Valentine tidak berasal dari Indonesia. Sejarahnya pun beragam, bahkan di banyak situs di internet, asal muasal tradisi ini sudah dibahas melalui beraneka macam analisa. Mulai dari tradisi penyembahan kaum pagan Kerajaan Romawi, mitos Gamelion yang berhubungan dengan pernikahan Zeus dan Hera sampai hari raya Santo Valentinus yang dipenuhi kisah-kisah cinta romantis pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis.

Mereka yang merayakan Valentine beralasan, tidak masalah seperti apa sejarah Valentine`s Day karena yang penting spirit kasih sayangnya. Kasih sayang pun diterjemahkan dengan memberikan bunga atau coklat kepada orang-orang yang disayanginya. Jadilah tradisi ini sebagai ajang persaingan produsen-produsen coklat atau bunga. Semakin kemari, bukan hanya iklan-iklan coklat yang membanjiri media, tapi iklan sabun, pulsa, motor, kecap sampai makanan siap saji bisa menumpang tema yang sama. Tidak salah toh, karena siapa saja bisa mewujudkan ekspresi kasih sayang dan bebas menafsirkan apa maknanya.

Apakah tanggal 14 Februari hanya untuk orang-orang yang merayakan Valentine`s Day? Tentu tidak, karena tidak ada konsensus yang mengatakan tanggal itu milik mereka. Bahkan, saat ini, di beberapa negara ada ketentuan yang mengharamkan perayaan Valentine`s Day. Malaysia adalah negara yang mengharamkan perayaan tradisi ini dengan alasan masuk dalam wilayah agama.

Kepala Departemen Pengembangan Islam Malaysia Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz mengharamkan perayaan Hari Valentine karena dianggap sebagai perayaan umat Kristiani. Oleh sebab itu, masyarakat muslim di sana tidak boleh merayakannya.
Di Iran, perayaan Valentine diganti dengan hari Mehregan yang masih terkait kasih sayang. Negeri para Mullah ini melarang produksi barang-barang yang berhubungan dengan Valentine seperti bunga mawar, coklat atau boneka. Alasannya sama dengan Malaysia, Valentine bertentangan dengan Islam.

Arab Saudi lebih-lebih lagi. Negara dua kota suci ini melarang transaksi atribut apapun berwarna merah muda yang menggambarkan hari raya Valentine. Sejak 2002 silam, peraturan itu sudah diberlakukan, meski pada kenyataannya ada juga transaksi atribut Valentine`s Day yang dilakukan secara underground.

Nah, di Indonesia perayaan Valentine`s Day tidak dilarang. Di sini, semua orang boleh mengikuti tradisi ini atau menolaknya mentah-mentah. Bagi fundamentalis proValentine, mereka akan menumpahkan seluruh kemampuan yang mereka punya, untuk mewujudkan apapun yang diinginkan. Bagi yang menolak, ada berbagai cara untuk mengimplementasikan penolakan tersebut. Ada pula perlawanan kreatif yang bisa dilakukan, seperti menggelar kampanye tutup aurat di hari raya Valentine.

Rencananya, tanggal 14 Februari mendatang, bakal ada gerakan tutup aurat yang dimotori Teachers Working Group (TWG) di seluruh kota di Indonesia. Jaringan TWG yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, siap menyukseskan program ini. Kampanye ini akan dilakukan di ruang-ruang publik agar masyarakat bisa merasakan langsung interaksi dengan para aktivis-aktivis TWG. Bahkan, jaringan organisasi ini sudah merambah Hong Kong, Malaysia, Inggris, Thailand dan Macau. Bisa jadi, kampanye tutup aurat akan menarik simpati warga negara di sana, karena ternyata ada komunitas yang menolak Valentine.

Spirit yang ingin disampaikan adalah menutup aurat sebagai bagian dari usaha menghindari perzinahan yang semakin merajalela. Tidak perlu dibantah jika Valentine`s Day juga menyimpan spirit free sex bagi pasangan muda mudi. Juga tidak usah didebat kalau makna kasih sayang ditelikung menjadi pembenaran bagi kebebasan hubungan jasmaniah antar jenis kelamin di luar pernikahan.

Apakah kampanye ini menjadi perlawanan bagi Valentine`s Day? Bisa jadi iya! Perlawanan tak bersenjata digelar untuk membuka mata dunia bahwa ada yang harus dibenahi dari moralitas generasi muda kita. Budaya, tradisi, sosial kemasyarakatan hingga peradaban yang dibangun harus berada di atas nilai-nilai kebenaran. Tidak ada relativisme kebenaran yang hanya melahirkan kebingungan intelektual.

Budaya menjadi bagian dari pemahaman seseorang terhadap nilai-nilai yang dianut. Budaya yang merusak akan melahirkan generasi yang rusak. Dengan adanya gerakan tutup aurat ini menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya yang tidak dibangun atas prinsip kebenaran wahyu.

Sumber : eramuslim.com

Negara-negara yang melarang perayaan hari Valentine

Uzbekistan baru saja masuk ke dalam daftar negara yang melarang perayaan Hari Raya Valentine setelah pada tanggal 27 Januari 2012 yang lalu beberapa pejabat pemerintahnya secara tidak resmi mengeluarkan larangan perhelatan kegiatan konser dalam rangka perayaan Hari Valentine yang biasa dirayakan setiap tanggal 14 Februari.

Salah satu surat kabar nasional, Turkiston, menulis perayaan Hari Valentine bisa mengancam tradisi asli negara tersebut karena ada suatu kekuatan dengan tujuan jahat di balik perayaan tahunan tersebut.

Sebelum Uzbekistan, sudah ada beberapa negara yang melarang warganya merayakan Hari Valentine seperti Arab Saudi, Pakistan, Iran, dan Malaysia.

Arab Saudi
Mulai tahun 2002, polisi agama di Arab Saudi melarang penjualan pernak-pernik Valentine. Mereka menghimbau para pemilik toko untuk menyingkirkan barang-barang berwarna merah karena hari Valentine mereka anggap sebagai hari raya umat Kristiani. Mulai 2008, para penjual bunga dan jasa pelipatan kertas kado menawarkan barang dan jasanya secara tertutup lewat jaringan bawah tanah.

Pakistan

Partai politik Jamaat-e-Islami melarang keras perayaan hari raya ini, namun masih saja ada warga negara Pakistan yang merayakannya. Hal ini ditandai dengan selalu melonjaknya permintaan pasar atas bunga mawar merah setiap menjelang tanggal 14 Februari.

Iran
Para guru agama Islam di Iran menentang perayaan Hari Valentine karena dianggap bertentangan dengan budaya Islam. Pada 2011, pemerintah Iran menerapkan aturan pelarangan produksi barang-barang yang berhubungan dengan Hari Valentine seperti kartu ucapan, bunga mawar, suvenir, dan boneka beruang agar warganya tidak merayakan hari raya kasih sayang tersebut. Iran mengganti perayaan Valentine dengan perayaan Mehregan yang juga merupakan peringatan hari kasih sayang. Perayaan Mehregan telah ada sejak zaman Persia kuno di mana perayaan yang dimulai setiap awal Oktober ini diunjukkan sebagai penghormatan terhadap bidadari cinta Persia, Mithra.

Malaysia
Pejabat muslim Malaysia mengingatkan warga Muslim untuk menentang perayaan Hari Valentine karena dianggap sebagai kegiatan yang berakibat buruk. Pada 2005, kepala Departemen Pengembangan Islam Malaysia Wan Mohamad Sheikh Abdul Aziz memfatwa haram perayaan Hari Valentine karena perayaan tersebut dianggap sebagai perayaan umat Kristiani dan oleh karena itu masyarakat yang beragama lain tak bisa turut merayakannya. Pada Hari Valentine 2011, pemerintah Malaysia menahan lebih dari 100 pasangan yang melanggar aturan tersebut.

Meskipun dianggap sebagai perayaan hari raya yang identik dengan agama Kristiani, Hari Raya Valentine sendiri juga banyak mendapatkan kritikan dari penganut agama tersebut karena dianggap mengandung kepentingan komersil semata. Bahkan muncul selentingan yang mengatakan Hari Raya Valentine seharusnya diganti menjadi Hari Raya Hallmark karena setiap tahun Hallmark -sebuah perusahaan pembuat kartu ucapan di Amerika Serikat- selalu berhasil menjual jutaan lembar kartu ucapan kepada masyarakat AS yang ingin mengirimkan salam Valentine kepada orang yang mereka sayangi.

Selain Hallmark, banyak perusahaan lain yang gemar mempromosikan perayaan Valentine seperti perusahaan cokelat, permen, boneka, dan pernak-pernik hadiah. Perusahaan-perusahaan ini selalu mendapatkan keuntungan berlimpah ruah setiap menjelang tanggal 14 Februari. Selain itu pelaku industri pariwisata seperti hotel-hotel dan agen perjalanan juga meraup laba berlipat ganda di setiap perayaan Hari Valentine.

Namun demikian, dalam Kalender Santo-santa Katolik Roma sendiri sudah tidak ada peringatan tanggal 14 Februari sebagai Hari Raya Valentine sejak tahun 1969.

Sumber : http://uniqpost.com

Baca juga artikel terkait :
1. Misteri Valentine Day's